TRIBUNNEWS.COM – Media sosial kini mulai menjadi rujukan masyarakat dalam mencari informasi, seiring dengan adanya perkembangan teknologi.
Beragam informasi semakin mudah diakses melalui media sosial seperti X (dulu Twitter), Facebook, TikTok, YouTube hingga Instagram.
Di platform media sosial tersebut, masyarakat bisa dengan mudah mencari informasi, hingga ikut membagikan, mengomentari dan berdiskusi tentang isu-isu yang menjadi trending topic (topik yang ramai dibicarakan) disana.
Namun informasi di media sosial tetaplah berbeda dengan berita. Berita berisikan fakta dari sebuah peristiwa, dan disajikan dengan batasan-batasan etik jurnalistiknya.
Berita memiliki nilai penting tersendiri untuk kepentingan publik dan pembacanya. Berita juga berisikan fakta yang bisa dipertanggungjawabkan oleh wartawan yang menulisnya.
Wartawan Bukan Influencer, YouTuber, Apalagi Buzzer
Direktur Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP), Nurcholis Basyari menegaskan, wartawan bukanlah Influencer, YouTuber, Tiktokers, apalagi Buzzer yang menjadikan platform media sosial sebagai satu-satunya sarana penyalur informasi mereka.
Influencer, YouTuber, Tiktokers, apalagi Buzzer memiliki keterikatan dengan jumlah followers, berbeda dengan wartawan yang merupakan sebuah profesi dengan aturan teknis yang mengikat, serta memiliki kode etik yang harus dipatuhi.
“Kita ini wartawan pers, berbeda dengan non wartawan, entah Buzzer, PR Agency, YouTuber. Mereka hitungannya followers. Mau aliran sesat atau tidak, yang penting pengikutnya banyak. Itulah yang harus membedakan karena kita (wartawan) terikat dengan etik.”
“Karena profesi yang membedakan. Mereka kan memang profesi juga, tapi sebetulnya tidak layak sebagai profesi karena tidak pakai etik. Profesi itu punya aturan teknis yang mengikat.”
“Untuk menjadi wartawan itu tidak bisa sembarangan, paling tidak mengerti, punya skill tentang kewartawanan, kemudian punya pemahaman tentang nilai berita, kemudian bisa membedakan mana penting, mana menariknya (informasi yang disajikan) untuk kepentingan publiknya. (wartawan)juga punya pemahaman tentang ilmu Jurnalistik,” kata Nurcholis saat memaparkan materi dalam Kelas Journalism Fellowship on CSR, pada Selasa (2/6/2026), secara daring melalui Zoom.
Tak hanya itu, dalam menyajikan berita, wartawan harus memberikan informasi yang layak dan penting untuk kepentingan publik.
Serta informasi yang memiliki relevansi, bukan hanya sekedar sensasi. Hal inilah yang kemudian mendasari perbedaan antara wartawan dengan non wartawan.
Pers Harus Konsisten pada Jalur Jurnalismenya
Tak bisa dipungkiri, masifnya penyebaran informasi di media sosial tidak bisa dihindari. Hal ini pun menjadi tantangan tersendiri bagi pers di era semakin canggihnya teknologi.
Namun Nurcholis memilih melihat tantangan itu sebagai peluang. Karena baginya, media sosial masih bisa dimanfaatkan pers sebagai Tool of Delivery atau alat distribusi berita.
“Harusnya medsos itu kita jadikan Tool Of Delivery, untuk mendistribusikan berita yang kita publish, agar pada saat itu juga bisa langsung terdistribusi,” ungkap Direktur GWPP tersebut.
Nurcholis juga menekankan bahwa wartawan dan media online sebagai produk pers harus bisa konsisten pada garis jurnalismenya.
Bukan malah memilih menyerah, bahkan terbawa arus untuk ikut membesarkan dan musuh dalam selimutnya, yakni media sosial.
“Seharusnya kita konsisten pada garis jurnalisme kita. Tapi yang belakangan terjadi dan akhirnya membuat kita hancur. Kita menyerahkan diri, bahkan mempopulerkan, membesarkan musuh dalam selimut kita, yaitu media sosial,” tuturnya.
Nurcholis menambahkan, media sosial hanya bisa menyediakan informasi, sementara pers memiliki keunggulan untuk melakukan verifikasi.
Informasi yang tengah ramai di sosial media itu bisa diolah kembali oleh pers menjadi informasi yang berdasarkan fakta yang telah terkonfirmasi kebenarannya.
Konfirmasi kebenaran inilah yang kemudian membuat pers tetap mendapatkan kepercayaan publik.
“Kaitannya dengan verifikasi, kita (wartawan) bisa mengontak (narasumber). Kenapa kita harus kutip (informasi) sosial medianya.”
“Memang ini tantangan untuk tetap bertahan pada jalur jurnalistik. Tapi itu akan menentukan trust (kepercayaan) publik (terhadap pers),” tegas Nurcholis.
Sumber: tribunnews.com
